Kesia-siaan Pembinaan Pemain Muda Elite Inggris

Kesia-siaan Pembinaan Pemain Muda Elite Inggris

Kesia-siaan Pembinaan Pemain Muda Elite Inggris

Inggris memperkenalkan sebuah program pembinaan sejak tahun 2008 pasca kegagalan lolos ke Euro 2008. Program tersebut bernama Elite Player Perfomance Plan (EPPP) di mana program tersebut menyatukan berbagai macam bakat muda paling dicari dalam satu tim dari berbagai akademi klub. Namun, ternyata banyak yang bilang program tersebut sia-sia dan hanya membuang waktu. Bagaimana pun juga setelah ada proses dan evaluasi ternyata ditemukan hasil yang mendukung pernyataan tersebut. Mereka meyakini bahwa pemain muda itu ibarat berlian yang masih kasar yang harus ditempa dengan benar sehingga bisa saja sekarang ada pemain muda yang tidak berbakat tetapi justru berkembang terlambat.

Mereka bahkan menemukan bahwa Program ini hanyalah sebuah analisa dari statistik komputer. Sehingga ada kecenderungan para pelatih lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya dan melihat laporan analisa pemain daripada benar-benar bekerja di rumput dan di lapangan bersama para pemainnya. Seharusnya para pelatih itu mengisi proses evaluasi di setiap akhir sesi latihan juga pertandingan. Dia mengomentari para pemainnya satu persatu ke ruangan khusus. Juga pada sesi latihan review teknik para pemain harus diberikan penjelasan sau persatu. Tapi, para pelatih justru membuang waktu di depan komputer saja dibandingkan berbicara dengan pemain langsung. Mungkin inilah pada akhirnya yang membuat frustasi terjadi lebih cepat di antara para pemain muda.

Bahkan lebih jauh frustasi ini digambarkan karena para pemain muda yang tergabung dalam program ini adalah masa depan bangsa Inggris. Maka, mereka menjadi mempunyai beban yang melebihi usianya. Banyak psikolog dan psikiater menyarankan agar kata “Elite” dihilangkan dari program ini karena secara psikologis itu menghasilkan dua buah pikiran pada para anak muda yang terekrut tersebut. Mereka akan menjadi arogan dan sombong ketika berhadapan dengan para anak sebaya mereka yang bermain di lapangan sekitar rumah mereka. Lainnya adalah mereka menjadi ketakutan tidak bisa menghasilkan apa-apa di masa depan. Dua hal ini memang wajar terjadi karena ada sebuah kasta tersendiri bagi mereka.

Maka, mungkin frustasi ini bisa dihilangkan dengan menggunakan kata yang lebih umum. Atau bahkan bisa jadi juga FA menawarkan program rahasia yang sebaiknya tidak usah diketahui umum. Apalagi selama FA belum menghasilkan sebuah pemain juara sebaiknya FA tidak usah mengumumkan apa gambaran rancangan masa depan pembinaan yang mereka lakukan. Lebih jauh FA disarankan agar bekerja saja dalam diam. Publik yang paling penting adalah tahu bahwa tim nasional Inggris pada akhirnya menjadi Juara di Kompetisi Besar. Mereka sudah berpuasa cukup lama untuk merasakan gelar juara yang sudah dinantikan. Tim nasional Inggris sebenarnya adalah muara segala pembinaan. Selama juga aturan klub untuk bebas membeli pemain maka mungkin selama itu juga para penggemar Inggris tetap gigit jari.