Piala Dunia 2014 : Tahun Yang Hebat Bagi Sejarah Brazil

Piala Dunia 2014  Tahun Yang Hebat Bagi Sejarah Brazil

Piala Dunia 2014 : Tahun Yang Hebat Bagi Sejarah Brazil

Piala Dunia 2014 akan dihelat di Brazil, negeri yang terkenal sebagai peraih gelar Piala Dunia terbanyak. Rakyat Brazil juga mengklaim bahwa negara mereka adalah ‘rumah’ sepakbola. Memenangkan Piala Dunia dan menyelenggarakan turnamen sebesar itu di negara sendiri adalah masalah yang berbeda, dan Brazil membuktikan premis itu. Pada bulan Juni dan Juli tahun lalu terjadi protes besar-besaran yang membuat FIFA sempat mempertimbangkan untuk menunda Piala Konfederasi. Dan di Piala Dunia Juni depan, ditengarai akan terjadi protes yang lebih besar. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah pihak yang memprotes dapat menggerakkan massa dengan jumlah yang sama atau bahkan lebih besar daripada beberapa bulan yang lalu?

Ataukah malah beberapa dari mereka sudah mengakhiri protes, tapi berganti haluan ke tindakan yang lebih radikal? Dua kemungkinan yang saya sebutkan tadi adalah skenario yang mungkin terjadi di bulan Juni, yang membuat Piala Dunia makin mendebarkan, tak dapat diprediksi, dan berpotensi menjadi tajuk utama dalam sejarah Brazil. Salah satu poin menarik dari gerakan protes di Brazil pada Piala Konfederasi lalu adalah tidak ada yang tahu bagaimana pola pergerakan protes. Padahal kita semua dapat melihat dengan jelas. Yang menjadi kunci dari adanya protes tersebut mungkin datang 20 tahun yang lalu, saat rencana ekonomi disusun dengan menghilangkan pajak bagi rakyat miskin, yang akhirnya malah menimbulkan hiper inflasi.

Dengan kondisi moneter yang stabil, jutaan orang malah tak dapat terintegrasi dalam sistem keunangan yang menawarkan kredit dalam bunga yang kecil. Apakah Brazil akan tersenyum di Piala Dunia? Boom dalam dunia ekonomi brazil sepertinya tinggal menunggu waktu. Dengan pendapatan yang tidak menurun dan jumlah pengangguran yang rendah, sebenarnya gerakan protes terhadap Piala Dunia takkan muncul, rakyat tak merasa perlu melancarkan protes. Bila kondisi ekonomi Brazil tetap meningkat, yang dapat berselaras juga dengan angka harapan hidup, akan menimbulkan masalah lain bagi Piala Dunia. Semakin banyak kredit yang dikucurkan dan semakin banyak kemakmuran akan menimbulkan ledakan jumlah pengguna jalan, sedangkan pertumbuhan jalan tak sebanding dengan pertumbuhan jumlah kendaraan. Tanpa investasi yang signifikan di transportasi massal, protes masih akan terjadi, dan kali ini yang menjadi topik bahasan adalah kecemburuan rakyat Brazil terhadap besaran dana yang akan digunakan untuk pembangunan sarana Piala Dunia daripada membangun infrastruktur transportasi masal.

Piala Dunia sebenarnya diadakan oleh pemerintah Brazil untuk meningkatkan keadaan. Rakyat Brazil diberitahu bahwa pembangunan stadion di Piala Dunia akan menjadi tanggung jawab swasta, sedangkan pemerintah akan bertanggung jawab untuk membangun infrastruktur turnamen. Tapi kenyataan yang terjadi tak seperti itu. Faktanya turnamen sepakbola sejagat dibangun oleh perusahaan yang tak berkompeten, milik dari penguasa lokal yang sebenarnya menggunakan uang negara. Jadi apakah kondisi tersebut membuat rakyat Brazil tersenyum? Saya rasa tidak, apalagi bila timnas mereka gagal mengangkat trofi Piala Dunia dihadapan publik sendiri.